Blog : Picking: Biaya Tersembunyi Terbesar di Gudang (dan Cara Mengontrolnya)
Operations, | 2026
Di banyak operasional gudang, ada satu fakta yang jarang disadari: lebih dari setengah biaya operasional seringkali habis hanya untuk aktivitas picking.
Ini bukan asumsi. Dalam berbagai studi operasional warehouse, aktivitas picking menyumbang sekitar 50–65% dari total biaya operasional gudang (optioryx.com & spatiumx.com)
Masalahnya, hampir tidak ada yang benar-benar mengukur ini.
Picking dianggap sebagai aktivitas rutin—bagian dari “kerja harian” yang memang harus terjadi. Akibatnya, biaya yang muncul dari aktivitas ini tidak pernah dilihat sebagai sumber inefisiensi, melainkan sebagai sesuatu yang “normal”.
Padahal, justru di sinilah kebocoran terbesar terjadi.
Secara operasional, picking adalah aktivitas yang paling sering dilakukan di gudang—dan juga yang paling menyerap tenaga kerja.
Dalam literatur supply chain, picking bahkan disebut sebagai aktivitas paling labor-intensive dan paling mahal di warehouse, dengan kontribusi biaya hingga 55% dari total operasional (ScienceDirect).
Namun ada karakteristik penting yang sering diabaikan:
Fakta di lapangan menunjukkan:
Artinya, sebagian besar biaya tenaga kerja sebenarnya habis untuk aktivitas yang tidak menghasilkan value langsung.
Masalah picking bukan hanya soal operasional. Dampaknya langsung terasa ke performa bisnis secara keseluruhan.
Ini yang sering terjadi di lapangan: gudang terlihat aktif, tapi sebenarnya tidak produktif.
Banyak perusahaan mencoba menyelesaikan masalah ini dengan menambah tenaga kerja.
Padahal, studi menunjukkan bahwa masalah utama bukan di jumlah orang—melainkan di desain proses picking itu sendiri.
Beberapa akar masalah yang paling umum:
Penempatan barang tidak mempertimbangkan frekuensi picking → meningkatkan jarak tempuh.
Routing dilakukan manual → menyebabkan travel time tidak terkontrol.
Padahal, dalam banyak warehouse, 30–50% waktu picking habis hanya untuk berjalan antar lokasi (optioryx.com)
Waktu terbuang untuk mencari barang atau memastikan stok.
Tanpa data, perusahaan tidak tahu:
Operasional berjalan berdasarkan “orang lama”, bukan sistem.
Semua ini mengarah ke satu kesimpulan: Operasional warehouse masih people-driven, bukan system-driven
Mengontrol biaya picking tidak harus dimulai dari investasi besar.
Yang lebih penting adalah perubahan pendekatan:
Operasional harus ditentukan oleh sistem, bukan kebiasaan.
Penempatan barang berdasarkan data (fast-moving vs slow-moving).
Picker diarahkan oleh sistem untuk:
Menghilangkan waktu mencari barang.
Setiap aktivitas menjadi measurable dan bisa diperbaiki.
Secara praktis, optimasi sederhana seperti pengaturan rute dan batching saja sudah terbukti bisa menurunkan biaya tenaga kerja secara signifikan karena langsung mengurangi walking time (Samir Saci).
Di titik ini, banyak perusahaan mulai menyadari bahwa pendekatan manual tidak lagi cukup.
Penggunaan Warehouse Management System (WMS) menjadi langkah natural berikutnya—bukan sekadar digitalisasi, tapi sebagai operational control system.
Dengan sistem:
Teknologi seperti RFID juga mempercepat proses ini, karena memungkinkan tracking barang secara real-time tanpa proses scanning manual satu per satu, sehingga meningkatkan akurasi dan efisiensi inventory .
Selain itu, sistem WMS yang terintegrasi memungkinkan seluruh proses—from inventory hingga reporting—terhubung dalam satu platform, sehingga operasional lebih terkontrol dan efisien .
Distribution warehouse (FMCG):
Sebelum:
Sesudah system-guided:
Perbedaannya bukan di jumlah orang,
tapi di cara kerja yang diatur oleh sistem.
Gudang bukan soal luas atau jumlah tenaga kerja.
Yang menentukan adalah efisiensi pergerakan di dalamnya.
Dan picking adalah pusatnya.
Jika hari ini proses picking masih manual, besar kemungkinan biaya operasional Anda sebenarnya tidak terkendali—hanya saja tidak terlihat.
Karena dalam banyak kasus: biaya terbesar di gudang bukan yang paling mahal per transaksi, tapi yang paling sering terjadi setiap hari.