Blog : Live Commerce vs Toko Fisik: Kenapa Banyak Retailer Masih Kalah dalam Perebutan Perhatian Pelanggan di 2026?
Business, Transformation, | 2026
Bayangkan seorang pemilik butik fashion lokal di Jakarta Selatan yang sudah menjalankan bisnis selama delapan tahun. Enam bulan terakhir, tim live commerce-nya menggelar sesi streaming rutin di TikTok Shop dan Instagram. Setiap malam, ratusan viewer menyaksikan demo produk, diskusi ukuran, dan flash promo. Penjualan via live naik tajam — bahkan dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.
Namun ketika ia membuka laporan toko fisik di akhir pekan, angkanya mengecewakan. Pengunjung sepi. Beberapa pelanggan datang ke toko setelah menonton live, tapi ukuran atau warna yang mereka inginkan “habis”. Yang lain bilang lebih nyaman checkout langsung di live karena “lebih cepat dan stok pasti ada”. Sementara itu, traffic ke website resmi juga melandai. Ia bingung: kenapa live commerce yang seharusnya membantu malah membuat toko fisik dan channel resmi terasa semakin sepi?
Cerita ini bukan kasus isolasi. Di 2026, pola serupa muncul di banyak retailer Indonesia yang memiliki toko fisik sekaligus penjualan digital — terutama di kategori fashion, F&B, dan lifestyle.
Live commerce telah bertransformasi dari eksperimen menjadi salah satu saluran utama discovery dan pembelian di Indonesia. Data industri menunjukkan bahwa sekitar 60% pembeli online di Indonesia pernah berbelanja melalui sesi live. Video commerce kini menyumbang sekitar 20% dari total GMV online pada 2025, melonjak tajam dari kurang dari 5% pada 2022. Conversion rate live commerce rata-rata tiga kali lebih tinggi dibandingkan listing katalog biasa (Mordorintelligence).
Pasar live commerce Indonesia sendiri diperkirakan mencapai USD 43,4 miliar pada 2026, dengan proyeksi pertumbuhan sangat agresif ke depan. E-commerce secara keseluruhan diproyeksikan mencapai USD 104,21 miliar pada 2026. Social commerce dan live shopping bersama-sama diperkirakan menyumbang sekitar 25% dari total volume e-commerce nasional (Digitalinasia).
Dampaknya bagi retailer yang memiliki toko fisik tidak bisa diabaikan. Discovery pelanggan bergeser drastis ke format “watch then buy”. Gen Z dan milenial — segmen yang paling aktif dan memiliki daya beli growing — semakin jarang memulai perjalanan belanja dari website resmi atau kunjungan spontan ke toko. Akibatnya, toko fisik kehilangan peran sebagai titik discovery pertama. Margin tertekan karena banyak brand memberikan diskon lebih agresif di live untuk menarik perhatian, sementara biaya fulfillment (pengiriman cepat atau return) sering lebih tinggi.
Data pelanggan terpecah: siapa yang membeli di live, apa preferensi ukuran/warna mereka, dan bagaimana riwayat interaksi mereka dengan toko fisik? Tanpa integrasi, retailer kehilangan kemampuan melakukan personalisasi lintas channel dan cross-sell/upsell yang efektif. Performa website resmi dan toko fisik pun ikut terdampak — bukan karena produknya kalah menarik, melainkan karena pelanggan tidak lagi “masuk” melalui channel tersebut.
Masalahnya bukan sekadar “live commerce lebih seru”. Akar persoalannya jauh lebih dalam dan multi-layer.
Pertama, secara teknis. Banyak sistem ritel yang masih digunakan (POS legacy, ERP lama, atau bahkan spreadsheet manual) tidak dirancang untuk sinkronisasi real-time dengan platform live commerce. Update stok sering dilakukan secara batch atau manual. Akibatnya, ketika live flash sale berlangsung, stok bisa ludes di satu channel sementara sistem lain masih menampilkan ketersediaan. Overselling dan stockout menjadi rutinitas yang merusak kepercayaan pelanggan.
Kedua, secara organisasional. Tim live commerce biasanya berada di bawah payung marketing atau digital, dengan KPI yang berfokus pada sales live dan engagement. Sementara tim operasional toko fisik memiliki target footfall, conversion in-store, dan inventory accuracy. Kedua tim ini jarang memiliki insentif bersama. Bahkan sering terjadi konflik: tim live ingin jual habis, tim store ingin stok aman untuk weekend.
Ketiga, secara data dan customer experience. Tidak ada single source of truth untuk profil pelanggan. Seorang pelanggan yang pertama kali berinteraksi via live diperlakukan seolah “online-only customer”, padahal orang yang sama bisa datang ke toko dua hari kemudian. Pengalaman menjadi inkonsisten: stok yang tersedia di live tidak selalu match dengan yang ada di toko, promo tidak sinkron, dan proses return atau tukar barang antar channel rumit.
Edge case yang sering terjadi di Indonesia: saat live menjual item high-velocity dengan promo terbatas, stok bisa habis sebelum update mencapai sistem POS toko-toko cabang. Atau pelanggan minta “reserve via live untuk diambil besok di toko”, tetapi sistem tidak mendukung reservasi lintas channel secara seamless. Di kota besar seperti Jakarta, traffic dan kepadatan membuat pelanggan sangat sensitif terhadap ketidakpastian stok.
Banyak retailer masih memandang live commerce sebagai “channel tambahan” atau “mesin sales cepat”. Pola pikir ini sudah usang di 2026.
Live commerce bukan ancaman bagi toko fisik. Ia adalah lapisan discovery baru yang sangat powerful, terutama bagi generasi yang tumbuh dengan konten video. Yang menjadi masalah adalah ketika retailer memperlakukan setiap channel sebagai entitas terpisah yang saling berkompetisi untuk margin dan perhatian pelanggan.
Pola pikir yang perlu diubah adalah dari channel-centric menjadi journey-centric dan operationally unified. Toko fisik tidak lagi harus menjadi “tempat jualan utama”, melainkan bisa bertransformasi menjadi hub pengalaman, fitting room, komunitas, dan fulfillment point yang didukung data real-time. Live commerce bisa menjadi pintu masuk berkualitas tinggi yang kemudian diarahkan ke channel fulfillment terbaik — baik itu pickup di toko terdekat, ship from store, maupun pengiriman langsung.
Tanpa perubahan pola pikir ini, live commerce justru akan terus menggerus performa channel lain. Dengan perubahan pola pikir yang tepat, live commerce bisa menjadi katalis yang memperkuat seluruh ekosistem ritel.
Pendekatan terbaik yang mulai diadopsi retailer yang berhasil adalah membangun fondasi unified commerce — bukan sekadar omnichannel yang hanya menambahkan channel, melainkan menyatukan operasional di belakang layar.
Elemen kuncinya meliputi:
Transformasi ini bukan hanya soal mengganti software. Ia menuntut redesign proses bisnis, penyelarasan KPI tim, dan investasi pada kemampuan integrasi data. Retailer yang melakukannya dengan benar melihat live commerce berkontribusi pada pertumbuhan keseluruhan, bukan hanya memindahkan penjualan dari satu channel ke channel lain.
Dari pengalaman mendampingi berbagai brand ritel Indonesia yang memiliki kombinasi toko fisik dan penjualan digital, terlihat pola yang cukup konsisten. Brand yang agresif mendorong live commerce tanpa integrasi backend yang memadai sering mengalami penurunan performa toko fisik dalam hitungan bulan. Footfall turun, komplain stok tidak tersedia meningkat, dan return rate naik karena ekspektasi pelanggan yang dibentuk di live tidak terpenuhi di dunia nyata.
Sebaliknya, retailer yang berinvestasi membangun visibility stok real-time dan order orchestration terpusat justru melihat kontribusi positif dari live commerce ke seluruh channel. Toko fisik bertransformasi menjadi aset strategis — tempat pelanggan bisa “merasakan” produk yang mereka lihat di live, atau mengambil pesanan dengan cepat. Inventory accuracy meningkat signifikan, margin lebih terjaga karena fulfillment bisa dioptimalkan, dan pertumbuhan revenue menjadi lebih sustainable karena tidak ada kanibalisasi internal yang merusak.
Pola ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada live commerce itu sendiri, melainkan pada kesiapan sistem operasional di belakangnya.
Live commerce di 2026 bukan lagi sekadar tren atau channel pelengkap. Ia telah menjadi salah satu jalur utama discovery dan pembelian, terutama bagi pelanggan termuda dan paling aktif. Retailer yang masih “kalah” dalam perebutan perhatian bukan karena live commerce lebih menarik, melainkan karena sistem mereka belum mampu menyatukan visibility, order, dan data pelanggan secara real-time antara live commerce, website, dan toko fisik.
Live commerce bukan ancaman. Ia adalah cermin seberapa siap operasional ritel Anda menghadapi pelanggan yang bergerak bebas antar channel.
Berikut langkah praktis yang bisa dimulai sekarang:
Dengan langkah-langkah ini, live commerce berubah dari potensi sumber konflik menjadi mesin pertumbuhan yang memperkuat toko fisik dan seluruh bisnis Anda.
Di tengah perubahan perilaku pelanggan yang begitu cepat, keunggulan kompetitif tidak lagi ditentukan oleh siapa yang punya live session paling ramai, melainkan oleh siapa yang memiliki sistem operasional paling terintegrasi di belakangnya. Retailer yang memahami ini lebih awal akan menjadi yang unggul di 2026 dan tahun-tahun berikutnya.
WIT Indonesia percaya bahwa teknologi retail management yang tepat — dengan kemampuan real-time visibility, integrasi inventory lintas channel, dan BI dashboard yang actionable — adalah fondasi penting untuk mewujudkan unified commerce yang sesungguhnya. Bukan untuk menggantikan sentuhan manusia di toko, melainkan untuk memberdayakannya dengan data dan kelancaran yang selama ini sering menjadi titik lemah.
Itulah perbedaan antara retailer yang sekadar ikut tren live commerce, dan retailer yang benar-benar memenangkan perhatian pelanggan di setiap titik perjalanan mereka.